Indef: Tarif Resiprokal 32% AS Ancam Utama Ekspor Indonesia

tisubodas
By -
0

- Institusi penelitian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) juga memberikan komentarnya mengenai kebijakan tariff balasan senilai 32% yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS) terhadap Indonesia. Kebijakan tersebut dipandang sebagai ancaman besar yang tidak boleh diremehkan bagi industri lokal.

Sebaliknya, argumen Amerika Serikat tentang pengenaan bea oleh Indonesia sebesar 64% pada produk mereka dianggap cukup menipu. Alasannya adalah karena angka tersebut diperoleh dari pembagian defisit neraca perdagangan dengan seluruh nilai ekspor, dan tidak mencerminkan tingkat bea masuk sesungguhnya.

"Metode ini rusak namun digunakan sebagai dalih untuk menindas kami secara satu pihak. Hal ini merupakan bentuk proteksionisme yang jelas-jelas merugikan Indonesia," ungkap Kepala Pusat Industri, Perdagangan dan Investasi Indef, Andry Satrio Nugroho pada pernyataannya hari Jumat tanggal 4 April.

Dia menegaskan bahwa tarif balasan ini secara langsung akan mempengaruhi sektor eksportasi utama Indonesia seperti tekstil, pakaian, dan sepatu, yang berkontribusi sebesar 27,5% terhadap total ekspor ke Amerika Serikat. Nilai tersebut belum mencakup produk seperti kelapa sawit dan karet, yang juga merupakan komoditas penting bagi negara kita.

Menurutnya, tarif ini tidak hanya akan mempengaruhi perdagangan, tetapi juga dampaknya akan dirasakan oleh jutaan pekerja.

"Dalam kurun waktu tiga tahun belakangan ini, telah ada lebih dari 30 pabrik dalam industri tekstil serta bidang terkait yang mengalami penutupan. Apabila pihak berwenang tetap tidak melakukan apa-apa, selain hilangnya pangsa pasarnya, akan datang angin ribut pemutusan hubungan kerja massal dengan skala jauh lebih luas," ungkapnya.

Bukan hanya itu saja, dia juga menggarisbawahi ketidakhadiran Duta Besar RI untuk AS yang sudah berlangsung sejak bulan Juli tahun 2023. Seharusnya, negeri yang sering disebut sebagai Negeri Paman Sam tersebut menjadi mitra perdagangan terbesar urutan dua bagi Indonesia.

" Ini bukan hanya kelalaian, tetapi merupakan penelapan atas pentingnya nasional," katanya.

Selain itu, Andry mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk dengan cepat memilih Duta Besar yang memiliki catatan kerja tangguh di sektor perdagangan dan investasi. Baginya, Indonesia perlu orang yang mengerti tentang diplomatik ekonomi serta berpengetahuan luas dalam negosiasi dagang.

"Posisi ini tidak sekadar simbolik; ini merupakan garda terdepan dalam pertahanan perdagangan Indonesia. Tanpa memiliki wakil di AS setiap harinya berarti kami semakin kehilangan kewenangan negosiasi. Kami akan kehilangan laju kemajuan, kesempatan, serta kontrol," tandasnya.

Berikut adalah rincian pentingnya: Pada tanggal 2 April lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan resmi menerapkan tarif balasan terhadap Indonesia sebesar 32% atas dasar tarif 10% yang telah ditetapkan oleh AS untuk seluruh negara. Kebijakan ini bakal efektif per 9 April tahun 2025 mendatang.

Implementasi tariff yang saling menguntungkan ini akan berdampak besar pada kemampuan ekspor Indonesia bersaing di pasaran AS. Hingga saat ini, barang-barang eksport utama dari Indonesia ke Amerika Serikat meliputi elektronik, teksil dan hasil olahan teksil, sepatu, minyak kelapa sawit, latek, mebel, serta udang dan produk ikan air tawar.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)