.CO.ID, JAKARTA - Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih berlangsung seiring dengan situasi ketid Pastian ekonomi. Banyak hal dapat mempengaruhi fluktuasi ini, termasuk sentimen dari luar dan dalam negeri. Baru-baru ini, para analis mencatat adanya dampak dari gerakan Rupiah Kreta akibat evaluasi Bank Dunia tentang performa pendapatan pajak di Indonesia yang ternyata kurang memadai.
Mengutip Bloomberg , rupiah meningkat 25,50 poin atau 0,15 persen mencapai tingkat Rp 16.562 per dolar AS saat pasar tutup pada hari Kamis (27/3/2025). Sehari sebelumnya, nilai tukar rupiah ada di posisi Rp 16.587 terhadap dolar AS, dengan harga tertinggi sempat menembus ke Rp 16.600 pada hari Selasa (25/3/2025).
"Bank Dunia mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negeri dengan performa pengumpulan pajak yang kurang baik di muka bumi. Tingkat pendapatan pajak Indonesia dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) dinilai sebagai salah satu yang tertinggi. Data tersebut bisa dilihat sebagai peluang positif bagi pemerintah untuk meninjau ulang dan memperbaiki sistem perpajakan secara rutin," jelas Analis Ekonomi Ibrahim Assuaibi pada rilisnya, Kamis (27/3/2025).
Ibrahim menyebutkan bahwa jika dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu, jumlah tersebut telah berubah menjadi seperti ini: tax ratio Pada tahun 2021, Indonesia melihat penurunan kira-kira 2,1 poin persen dalam hal ini. Dalam laporan tersebut, pandemi Covid-19 diketahui berkontribusi pada pelemahan rasio pajak negara kita dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB), yang jatuh drastis hingga mencapai 8,3% di tahun 2020.
" Salah satu penyebab utama yang diidentifikasi oleh Bank Dunia adalah performa pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh) badan yang belum mencapai tingkat efisiensi maksimal. Di tahun 2021, gabungan kedua jenis pajak ini baru menyumbangkan sekitar 66% dari seluruh pendapatan pajak secara keseluruhan, hal itu setara dengan 6% Produk Domestik Bruto," jelasnya.
Ibrahim menyatakan bahwa walaupun lebih produktif daripada jenis-jenis pajak lainnya, angkanya tetap saja cukup rendah jika dibandingkan dengan negara-negara sekitarnya. Menurut World Bank, hal itu bisa terjadi karena beberapa alasan seperti tingkat kesadaran membayar pajak yang kurang baik, tarif pajak efektif yang cenderung rendah, serta jangkauan objek pajak yang tidak luas.
Secara umum, situasi itu diyakini menyebabkan Indonesia merugi sekitar Rp 944 triliun dalam potensi pendapatan pajak dari tahun 2016 sampai 2021. Kerugian ini mencakup hilangnya pendapatan karena masalah pelaporan tidak tepat sasaran terkait PPn dan PPh badan, juga kerugian berdasarkan keputusan kebijakan perpajakan oleh pemerintah.
Sentimen Eksternal
Pada saat bersamaan, pengaruh kebijakan presiden AS Donald Trump tetap menjadi fokus utama dari aspek internasional. Trump telah menyatakan niatannya pada hari Rabu untuk menerapkan tarif sebanyak 25% atas seluruh kendaraan beserta komponennya yang diimpor, dengan aturan ini akan diberlakukan mulai tanggal 2 April.
"Pasar mengevaluasi secara cermat kemungkinan pengaruh dari tarif tersebut, mengingat hal itu bisa membawa konsekuensi ekonomi yang meluas yang akan berdampak pada permintaan minyak serta kestabilan pasar," katanya.
Ibrahim menyebutkan bahwa sektor otomotif adalah pengguna energi yang besar, terutama untuk bahan bakar minyak. Kenaikan tarif yang membuat harga kendaraan lebih mahal bisa membatasi pembelian mobil baru, hal ini mungkin mereduksi output produksi serta secara tidak langsung berdampak pada kebutuhan atas produk minyak.
Trump dikenal pula berencana untuk menerapkan bea masuk pada barang-barang impor penting bersama dengan sektor-sektor lainnya seperti elektronika dan obat-obatan. Sementara itu, Eropa, Kanada, Cina, dan Meksiko sudah menyuarakan keberatan terhadap tarif ini dan memberikan ancaman balasan, hal ini bisa menjadi awal dari peperangan perdagangan skala dunia yang dapat menghalangi perkembangan ekonomi secara keseluruhan.
Di luar hal tersebut, faktor-faktor positif tambahan meliputi Amerika Serikat yang bertindak sebagai mediator dalam perjanjian terpisah pada hari Selasa antara Ukraina dan Rusia guna mengakhiri serangan di lautan serta menargetkan infrastruktur energi. Dalam komponen ini, pihak Washington menyatakan niat mereka untuk mendukung penghapusan sejumlah sanksi atas Moskow, lebih spesifik lagi yaitu sanksi-sanksi yang berkaitan dengan bidang pertanian dan juga eksportir pupuk asal Rusia.
Akan tetapi, hanya dalam waktu beberapa jam sejak pembicaraan gencatan senjata, kedua belah pihak—Rusia dan Ukraina—saling menyebut satu sama lain telah melanggar kesepakatan yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat guna mengakhiri penyerangan terhadap instalasi energi. Di sisi lain, Uni Eropa menyampaikan bahwa mereka tidak akan mentolerir tuntutan Rusia tentang usulan gencatan senjata di Selat Hitam.
Menurut analisanya, Ibrahim mengestimasi bahwa nilai tukar rupiah kemungkinan akan kembali melemah dalam sesi trading setelah liburan Idulfitri 1446 Hijriyah. "Pada tanggal 7 April 2025, perkiraannya adalah kurs rupiah akan bergejolak tetapi penutupan diproyeksikan melemah dengan range antara Rp 16.550 hingga Rp 16.660 untuk satu dolar AS," jelasnya.