WhatsApp Dicibir, Pendiri Telegram Sebutnya Tak Original dan Kurang Berhubungan

tisubodas
By -
0

- Sang founder dan juga kepala eksekutif Telegram, Pavel Durov, mengolok olok kompetitornya yaitu WhatsApp. Kritik tajam tersebut dia sampaikan melalui suatu pesan yang diposting ke saluran pribadinya di platform Telegram.

Sesungguhnya, pesan tersebut menginformasikan tentang prestasi Telegram. Durov menyatakan bahwa aplikasi Telegram saat ini telah mencapai jumlah 1 miliar pengguna aktif setiap bulannya. monthly active user /MAU).

Dia juga mengklaim bahwa pendapatan Telegram melonjak pesat pada tahun lalu dengan meraih laba sebanyak 547 juta dolar AS (kira-kira 9 triliun rupiah).

Kemudian Durov menyatakan bahwa prestasi tersebut belum bisa menandingi WhatsApp, yang ia sebut sebagai "pengikut" dan "telah kehilangan relevansinya".

" Di hadapan kita terdapat WhatsApp, pengganti Telegram yang lebih ekonomis dan telah ketinggalan zaman," demikian katanya.

Sebagai pembanding, pada tahun 2020 WhatsApp mengungkapkan bahwa mereka memiliki 2 miliar pengguna aktif bulanan secara global. Bisa jadi angka tersebut telah meningkat sejak itu.

Namun, Meta, perusahaan induk dari WhatsApp, belum mengeluarkan informasi terkait hal ini. update yang terkini mengenai jumlah pemakainya pada masa kini.

Pada pesan tersebut, Durov juga mengkritik WhatsApp dan perusahaannya, Meta, karena telah mencoba memperlambat perkembanganTelegram.

"Dalam kurun waktu yang lama, mereka terus berjuang keras untuk mensimulasikan inovasi kita, sekaligus merogok biaya triliunan rupiah untuk lobbi serta kampanye publik, dengan tujuan membisukanTelegram," ungkap Durov.

Durov menambahkan bahwa Telegram dapat menjaga kemerdekaannya dengan lebih baik dibandingkan WhatsApp.

"Telegram berkembang, mendapatkan keuntungan, dan -berbeda dari kompetitor kita- tetap menjaga kemerdekaannya," tambahnya, demikian dilansir. KompasTekno Dari saluran milik Pavel Durov di Telegram, Jumat (21/3/2025).

Kemenangan pertamanya setelah 11 tahun menjalankan bisnisnya

Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Durov pada tahun lalu, Telegram akhirnya menghasilkan laba untuk pertama kali dalam kurun waktu 11 tahun. Dia menyatakan bahwa Telegram telah memperoleh pendapatan senilai 1 miliar dolar AS atau kira-kira setara dengan 16,4 triliun rupiah.

Angka itu meningkat menjadi tiga kali lebih banyak daripada tahun sebelumnya. Penghasilan Telegram di tahun 2023 mencapai 342 juta dolar AS atau kira-kira setara dengan 5,5 triliun rupiah.

"Dari kutipan Durov di X Twitter, total pendapatan Telegram melebihi 1 miliar dolar AS pada tahun 2024, dengan lebih dari 500 juta dolar AS dalam bentuk uang tunai, tanpa memasukkan aset kriptonya," katanya.

Durov mengklaim bahwa pertumbuhan berlipat ganda dalam sektor iklan telah menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama bagi Telegram.

Di samping itu, harga Telegram Premium meningkat menjadi tiga kali lipat. Seperti yang dilansir oleh Durov, total pengguna berbayar di platform tersebut telah melampaui angka 12 juta.

Layanan tersebut diluncurkan pada tahun 2022 dengan tarif berlangganan $4,99 (setara dengan sekitar Rp80.782) setiap bulannya. Telegram Premium menambah daftar metode pendapatan perusahaan di samping pembagian keuntungan untuk para kreator, langganan level bisnis, aplikasi mini, dan masih banyak lagi.

Salah satu prestasi lain yang dicapai oleh Telegram diakhir tahun adalah melunasikan hutang senilai 2 miliar dolar AS (kira-kira setara dengan 32,37 triliun rupiah).

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)