Tanah Abang Lebih Sepi dari Tahun Kemarin, Pedagang: Dahulu Seperti "Tawaf", Kini Boleh Main Bola

tisubodas
By -
0

JAKARTA, Menjelang hari raya Lebaran, kawasan Pasar Tanah Abang yang dikenal sebagai pusat perbelanjaan sudah mulai dipadati oleh pembeli.

Akan tetapi, pedagang mengira situasi pembeli di tahun ini tidak sebaik tahun kemarin. Menurutnya, terdapat pengurangan jumlah konsumen yang cukup mencolok.

Di tahun sebelumnya, para pembeli berdesakan seperti tawaf karena jalannya hanya selebar satu langkah dan sangat padat. full sangat," ujar Edo (35), seorang pedagang, saat ditemui di tempat tersebut, Sabtu (15/3/2025).

Menurutnya, atmosfer di Tanah Abang kini terasa lebih santai, dan di berbagai lorong masih kelihatan lenggang.

"Jadi sekarang, seperti halnya untuk bermain sepak bola karena ada waktu kosong," katanya sambil bercanda.

Edo teringat masa lalunya ketika para pelanggan bersaing untuk membeli pakaian menjelang hari raya Idul Fitri.

"Untuk saya, untuk saya," dia menirukan nada para ibu-ibu yang bersemangat mencari pakaian.

Tetapi, pada tahun ini, keseruan itu sudah tak dirasakan lagi. Ia mengatakan ada pengurangan signifikan dalam jumlah konsumen.

"Jumlah pembeli turun 50 persen dibandingkan dengan tahun lalu yang pada satu hari dapat mencapai kira-kira 150 orang," jelasnya.

Sebenarnya, masa mendekati Lebaran harusnya menghadirkan atmosfer berbelanja yang lebih ramai.

Seperti halnya Edo, Novi, yang merupakan pedagang berumur 29 tahun, juga mengalami kesepian atas keadaan Tanah Abang pada saat ini.

"Bila saat ini bisa disebut sepi. Sementara itu, pada tahun lalu, bahkan dari pagi, para pembeli sudah bersaing," jelas Novi kepada .

Dia mengatakan, pada tahun lalu, para pembeli telah membanjiri tempat itu sejak awal hari, membuatnya menjadi sangat ramai sampai petang.

"Bila di tahun lalu, mulai pukul 07.00 hingga 17.00 WIB, para pembeli sangat mendesak dan ramai sepanjang hari," terangnya.

Akan tetapi, pada kini, keadaan berkebalikan, di mana pembeli baru banyak terlihat dalam waktu dua jam saja.

"Kembali sepi seperti biasa," ujar Novi dengan nada penuh kesedihan.

Keadaan ini secara langsung mempengaruhi penghasilan Novi. Sebelumnya, omzet toko miliknya dapat menyentuh angka Rp 10 juta, namun kini hanya berkisar antara Rp 5 juta per hari.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)