Bayangkan hal ini: seseorang yang sudah menjadi dewasa, melanjutkan studi di jenjang tinggi, bekerja dengan karir mapan, dan telah membentuk keluarga sendiri—namun tetap tergantung pada orangtuanya. Masih minta dukungan ekonomis, selalu merujuk kepada orangtua saat membuat pilihan penting dalam hidupnya, bahkan masih menjadikan rumah orangtuanya sebagai pelabuhan ketika menghadapi tantangan-tantangan sulit tersebut. Adalah mungkin itu adalah hasil akhir yang kita inginkan bagi buah hati kita?
Sebagai orangtua, pasti kita harapkan agar anak berkembang menjadi individu yang otonom. Kami inginkan supaya mereka mampu merawat kebutuhan diri sendiri, menemui hambatan dalam hidup, serta tak selamanya tergantung kepada kami. Tetapi, apakah sebelumnya sudah ada di pikiran kita bahwa rasa independen si buah hati ini pun dapat membawa emosi yang bercampur aduk?
Saat Si Kecil Lebih Suka Bergaul dengan Rekan Sebaya
Pada suatu hari senja, saya bersama istriku merencanakan perjalanan ke kediaman Mbah guna mendapatkan beberapa barang. Kamilah sudah siap untuk memulai petualangan itu, membayangkan bahwa putra kita juga akan bergabung layaknya waktu-waktu sebelumnya. Tetapi, pada kesempatan tersebut tanggapannya tidak sama dengan yang diharapkankami.
"Ibu ingin pergi ke rumah Zia," ucapnya dengan tegas.
Kami terhenti sebentar. Wah... anak kita yang masih balita telah punya keinginan tersendiri. Alih-alih bergembira untuk pergi bersama kedua orangtuanya, dia justru lebih suka bermain dengan kawankannya.
Kami berusaha mengonfirmasi, "Jadi kita akan menuju ke rumah Mbah ya?"
"Iya," jawabnya tanpa ragu.
Kita memulai perjalanan, namun selama perjalanannya ada hal yang mengganggu pikiranku. Bukan karena sang anak enggan untuk pergi ke rumah Mbah, melainkan sebuah pemikiran: putra kita tengah berkembang.
Di antara Perasaan Berbangga dan Kesedihan Karena Kehilangan
Dari sudut pandang lain, pastinya kami merasa tersanjung. Seorang anak yang bisa bersikap mandiri merupakan produk dari metode pengasuhan yang efektif, setuju? Dia mampu membuat keputusan secara independen, membuktikan bahwa dia mempunyai rasa percaya diri serta kendali terhadap pilihan-pilihannya. Bukan begitu tujuan para orangtua pada umumnya?
Akan tetapi, disana terdapat rasa aneh yang sukar untuk diceritakan. Terdapat sebentuk kesedihan dan kangen kecil. Dahulunya, dia selalu menginginkan dirinya turut serta kemana saja kita pergi. Kini, dia mulai memiliki ruang lingkupnya sendiri-sendiri. Bisa jadi dia merasa lelah dengan setiap kali kami ajak bepergian? Atau apakah hal tersebut menunjukkan penurunan intensitas dalam persahabatan kita?
Sebenarnya, istriku merupakan ibu yang hampir setiap saat dalam sehari senantiasa menemani anaknya. Mengapa dia merasa masih belum cukup?
Mempersiapkan Hati Menuju Kekuatan Berdiri Sendiri pada Anak
Kebebasan tentu suatu karunia, namun juga merupakan pengujian untuk para orangtua. Kami sering kali mengira bahwa kesulitan utama adalah cara membentuk anak menjadi mandiri. Namun pada hakikatnya, tantangan yang tidak kalah besarnya ialah tentang bagaimana kami selaku orangtua dapat merelakan keberhasilan tersebut dengan hati terbuka.
Anak yang independen mungkin tak selalu mau menemani kemana pun kita pergi. Bisa jadi mereka nggak butuh saran kita terus-menerus. Atau bisa juga mereka engga selalu minta bantuan dalam pengambilan keputusan. Meskipun begitu, ini bukan berarti bahwa mereka sudah tiada lagi keperluan akan diri kita.
Kewajiban kami tidak sekadar mendidik mereka agar bisa berdiri sendiri, namun juga harus mempelajari bagaimana cara melepasnya dengan ikhlas.
Dan di penghujung hari, walaupun mereka telah memiliki alam masing-masing, kita tetap menjadi tempat yang senantiasa dapat mereka capai—tidak perlu membuat mereka terikat jika ingin meninggalkan jejak. --KRAISWAN