.CO.ID - JAKARTA. Kinerja saham perbankan memang sedang menunjukkan penurunan sejak permulaan tahun 2025. Sebagai contoh, perkembangan nilai saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada hari ini, Kamis (13/3), tercatat di posisi Rp 8.975 per saham, yang artinya telah merosot sebesar 7,24% dibandingkan dengan awal tahun 2025 tersebut.
Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun sebesar 6,86% sepanjang tahun dan kini diperdagangkan pada harga Rp 3.800 per saham.
Harga saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) pada saat ini berada di posisi Rp 4.740 per saham dan mengalami penurunan sebesar 16,84% semenjak awal tahun 2025.
Saat ini, harga saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) diperdagangkan pada level Rp 2.550 per saham, yang mewakili penurunan sebesar 6,59% sepanjang tahun ini.
Berikutnya, saham PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mencatatkan penurunan sebesar 27,19% sepanjang tahun ini dan kini diperdagangkan pada harga Rp 830 per saham.
Analis Memperkirakan Tekanan Penjualan Asing di Saham Perbankan Semakin Berkurang
Sentimen Pemberat Saham Perbankan
Head of Research dan Chief Economist Mirae Asset Sekuritas mencatat bahwa sentimen utama di balik performa saham perbankan saat ini disebabkan oleh kondisi likuiditas yang semakin sempit, hal ini bisa mempengaruhi profitability sektor tersebut. Tambahan lagi, ada keprihatinan mengenai pertambahan tingkat kredit macet. Non Performing Loan (NPL).
Rully pun menyaksikan para investor asing sedang mengamati rebalancing Portofolio yang melibatkan lebih dari sekadar sektor perbankan namun mencakup pula semua lini pasar saham di Indonesia.
"Sebagian besar investasi asing yang dikeluarkan adalah sektor perbankan, yang merupakan industri dengan nilai pasaran tertinggi di Indonesia," jelas Rully saat berbicara dengan , pada hari Kamis (13/3).
Pada saat ini, tidak ada elemen yang dapat mendukung likuiditas dari saham sektor perbankan. Sementara itu, para investor lokal tetap berhati-hati ketika membeli lebih banyak saham, khususnya karena aliran dana asing yang terus meninggalkan pasar.
Sejumlah pialang yang rajin menawarkan saham bank seperti BMRI serta BBRI meliputi CLSA, Macquarie, dan CGS.
Tiba Musim Bagi Hasil di Sektor Perbankan, Simak Saran Para Ahli Keuangan
VP Pemasaran, Strategi dan Perencanaan Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengomentari tekanan terhadap saham tersebut. big bank didorong beberapa sentimen.
Pertama , performa peluncuran pada tahun 2024 yang tidak memenuhi harapan, lebih parah disebabkan oleh kenaikan cost of credit mengikuti kenaikan suku bunga.
Kedua , tekanan penjualan dari luar negeri, sementara beberapa institusi asing mengurangi rating saham Indonesia menjadi underweight .
Ketiga , ketakutan akan efek dari keputusan tariff Trump, terutama pada sektor ekonomi makro di dalam negeri.
"Saham big bank Yang paling sering dijual asing sepanjang tahun ini adalah BBCA senilai Rp 6,59 triliun, BMRI denganRp 4,78 triliun, dan BBRI mencapai Rp 3 triliun," jelas Audi kepada pada hari Kamis (13/3).
Audi juga menjelaskan aksi inflow Diharapkan akan tetap berlangsung sambil menciptakan stabilitas, termasuk di dalam perekonomian domestik dan menurunya ketidaknyamanan mengenai efek dari keputusan tariff.
Di samping itu, penurunan tingkat suku bunga referensial The Fed (FFR) bisa jadi dorongan untuk arus kapital keluar dari pasar AS, hal ini dapat memicu perpindahan dana menuju pasar dalam negeri.
Audi pun menjelaskan bahwa menurut datanya summary broker secara year to date, Beberapa pialang asing terlihat sedang agresif dalam menjual saham bank-bank besar. Pada BBCA, BK melaporkan adanya penjualan senilai Rp 2,2 triliun, disusul oleh YU dengan volume penjualan sekitar Rp 1,8 triliun.
Di sisi lain, di BBRI, penjualan dilakukan oleh CLSA (KZ) dan CGS International (YU), dengan jumlah berturut-turut adalah Rp 1,7 triliun. Sedangkan untuk BMRI, Maybank (ZP) mencatatkan penjualan saham senilai Rp 1,3 triliun.
Diperbaiki pada Akhir Pekan, Namun Saham Bank-Bank Besar Naik Selama Minggu Ini
Sebaliknya, ada pula aktivitas pembelian di beberapa saham ini. Di BBCA, Mirae Asset (YP) memimpin sebagai pembeli besar dengan total akumulasi mencapai Rp 730 miliar. Sedangkan untuk BBRI, mayoritas pembelian berasal dari investor dalam negeri; khususnya Bahana (DX) serta Mandiri (CC), yang kedua-duanya mengumpulkan jumlah sama yaitu Rp 1,5 triliun. Terkait BMRI, catatan menunjukkan bahwa Mirae Asset (YP) telah melaksanakan pembelian senilai Rp 501 miliar.
Investasi Analis EdVISOR Profina Visindo Indy Naila menyebutkan bahwa berbagai sentimen telah mendorong harga saham perbankan terjun.
Satu di antaranya adalah keraguan mengenai program pemerintahan baru, seperti Danantara, yang sampai saat ini masih kurang jernih tentang cara peningkatan efisiensi dananya. Di samping itu, niat untuk membatalkan pinjaman bagi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) pun menciptakan keprihatinan potensialnya meredam laju pertumbuhan kredit.
Selanjutnya, ketidakstabilan dalam kondisi ekonomi dunia, yang utamanya berkaitan dengan kebijakan tingkat suku bunga acuan, juga membebani pasar saham, lebih-lebih di sektor perbankan.
"Belum lama ini pula dirilis laporan keuangan kuartal 4 tahun 2024 untuk sektor perbankan yang mengindikasikanperlambatan dalam pertumbuhan laba bersih," ungkap Indy kepada , pada hari Kamis (13/3).
Selain itu, Indy menyaksikan aktivitas investasi dari luar negeri menunjukkan ada strateginya. rebalancing Portofolio, mempertimbangkan bahwa saham sektor perbankan di Indonesia masih terpengaruh oleh masalah politik serta kurangnya keterbukaan dalam keputusan kebijakan.
Alih-alih beberapa waktu lalu, arus asing diperkuat karena Morgan Stanley mengurangi anjuran investasi pada saham di Indonesia berdasarkan penilaian mereka. return on equity Saham di China menawarkan Return on Equity (ROE) yang lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia, sehingga investor asing mungkin cenderung lebih berminat pada pasar tersebut. emerging lain
Di masa mendatang, upaya Bank Indonesia untuk mengendalikan nilai tukar rupiah akan menjadi hal krusial yang harus diwaspadai oleh para pemain pasar.
Indy merekomendasikan kepada para pemodal agar membeli saham-saham bank seperti BMRI dan BBRI dengan tujuan harga penargetan sebesarRp 6.100 dan Rp 5.250 per saham.