Rencana Perombakan Direksi di 4 Bank Milik Negara, Apa Dampaknya bagi BSI?

tisubodas
By -
0

JAKARTA, - Bank-bank berstatus pelat merah sudah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan seminggu ini.

Terdaftar empat bank milik negara dengan saham utama yang telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan minggu ini yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

Paling tidak, ada tiga poin utama yang sama di bahas setiap kali rapat umum pemegang saham tahunan dilaksanakan oleh badan usaha milik negara ini. Poin-poin itu mencakup distribusi dividen kas, skema pembelian kembali saham atau biasa disebut dengan buyback, serta penyusunan ulang struktur kepengurusannya termasuk dewan direktur dan dewan komisar.

Pergantian Direksi

Pada rapat umum pemegang saham tahunan kali ini, BRI dan BNI menghadirkan direksi utama yang baru. BRI akan diketuai oleh sebelumnya Direktur Utama BSI yaitu Hery Gunardi.

Pada saat yang sama, Agus Noorsanto yang baru saja menempati posisi direksi dalam bidang usaha grosir dan lembaga, diangkat menjadi wakil direktor utama bank BRI.

Pada saat yang sama, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BNI menyarankan agar Putrama Wahju Setyawan, siapa yang kini berperan sebagai Deputi Direktur di BNI, dipromosikan ke jabatan pimpinan tertinggi di perusahaan dengan lambang 46 tersebut.

Wakil Direktur Bank Mandiri, Alexandra Askandar yang sebelumnya dipecat, akan menempati posisi kosong yang dulunya dijabat oleh Putrama.

Berikutnya, Bank Mandiri menetapkan agar Darmawan Junaidi tetap menjalani tugas sebagai direksi utama BMRI untuk masa jabatan tahun 2025 hingga 2030. Sementara itu, posisi Wakil Direktur Utama akan diambil alih oleh Riduan, yang sebelumnya telah lama mengemban tanggung jawab dalam bidang perbankan korporasi.

Riduan menempati posisi yang sebelumnya diemban oleh Alexandra Askandar.

BTN tetap menjaga posisi Nixon L. P. Napitupulu sebagai direktur utama perusahaan tersebut. Meskipun demikian, dia termasuk orang yang relatif baru di BTN. Sementara itu, jabatan wadirut di BTN masih diduduki oleh Oni Febriarto Rahardjo.

Pembagian dividen

Bank BRI menjadi bank milik negara yang memberikan dividen tunai terbanyak kepada para pemilik sahamnya.

BBRI akan memberikan dividen tunai sebesar Rp 51,74 triliun dari BRI untuk periode laporan yang berakhir pada tahun 2024.

Artinya, dividen final yang bakal di distribusikan oleh BRI kepada pemegang saham adalah sebesar Rp 208,40 per lembar saham.

Berikut adalah informasinya, BBRI sudah mentransfer dividen interim sebesar Rp 20,33 triliun atau sama dengan Rp 135 untuk setiap sahamnya, dan pembayaran tersebut dilakukan pada tanggal 15 Januari 2025, Jumat.

Berikutnya, Bank Mandiri BMRI mengumumkan pembayaran dividen tunai sebesar Rp 43,51 triliun. Oleh karena itu, total dividen tunai yang akan diberikan oleh Bank Mandiri adalah Rp 466,18 per saham.

Bank Mandiri telah menentukan bahwa sebesar 78% dari laba bersih konsolidasinya pada tahun 2024, yaitu sekitar Rp 43,51 triliun, akan diberikan sebagai dividen kepada para pemilik saham.

Selanjutnya, BBNI sudah memberi persetujuan untuk mengalokasikan dana pembagian dividen tunai senilai Rp 13,96 triliun terkait dengan penutupan tahun buku pada 2024.

Artinya, BBNI mengeluarkan dividen tunai sebesar Rp 374 per saham. Dengan demikian, rasio pembayaran dividen tunai atau DPR BBNI untuk tahun buku 2025 mencapai 65%.

Selanjutnya, BTN mengambil keputusan untuk mendistribusikan dividen senilai Rp 751,83 miliar atau setara dengan Rp 53,57 per saham kepada para pemilik saham. Jumlah tersebut merupakan hasil dari 25% laba bersih tahun buku 2024 yang mencapaiRp 3 triliun.

Dividen yang diberikan pada tahun ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu yaitu senilai Rp 700,19 miliar atau mencapai 20% dari total laba bersih tahun buku 2023 yang sebesarRp 3,5 triliun.

Buyback

Selanjutnya, dalam rapat tersebut, pemegang saham dari kumpulan bank milik pemerintah (HIMBARA) juga mengajukan pembahasan dan mendapatkan persetujuan untuk menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.

Sebagai contoh, BRI setuju untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal sebesar Rp 3 triliun.

Pembelian kembali saham ini akan dilaksanakan melalui bursa efek atau pun di luar bursa efek, dan prosesnya harus selesai paling lambat dalam jangka waktu 12 bulan setelah tanggal pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham Tertutup.

Berikutnya, Bank Mandiri telah memberikan persetujuan untuk melakukan rencana pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai maksimal mencapai Rp 1,17 triliun.

Inilah salah satu pendekatan yang digunakan oleh Bank Mandiri untuk mempercepat kepercayaan para pemegang saham terhadap masa depan jangka panjang bank tersebut.

BNI telah memberikan persetujuan untuk program buyback saham senilai hingga Rp1,5 triliun.

Rapat Umum Pemegang Saham Tertinggi (RUPST) pun setuju dengan penyerahan saham dari program pembelian kembali (buyback), yang nantinya akan dijadikan sebagai saham treasury stock.

Saham tersebut kelak bisa dipergunakan dalam Program Kepemilikan Saham Untuk Pegawai beserta direksi dan dewan komisaris, atau penyerahan lainnya sejalan dengan persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan peraturan yang sedang aktif.

Selain itu, BTN terus meninjau pilihan buyback dalam pasar Indonesia.

BSI Belum RUPS Tahunan

Dari daftar perbankan itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk, yang berasal dari penggabungan antara PT Bank BRI Syariah Tbk, PT Bank Syariah Mandiri, dan PT Bank BNI Syariah, sepertinya belum menetapkan agenda Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan BSI mendatang, perusahaan akan menunjuk pengganti Hery Gunardi yang sudah berpindah ke BRI.

Bukan hanya itu saja, Salahdin D. Effendi yang merupakan salah seorang direksi di BSI ternyata telah beralih ke posisi Direktur Teknologi dan Informasi di BRI.

Pada saat yang sama, Ari Rizaldi dari Treasury dan Departemen Internasional BSI tercatat sebagai Direktur Treasury and International di Bank Mandiri.

Sejak secara resmi diluncurkan sebagai badan usaha yang terbentuk melalui penggabungan pada tahun 2021, BSI telah mengalami pertumbuhan yang pesat. Total asetnya meningkat dari sekitar Rp 236 triliun di bulan Februari 2021 hingga mencapai angka Rp 409 triliun menjelang akhir tahun 2024.

Jabatan ini menjadikan BSI berada di posisi enam teratas di sektor perbankan tanah air. Jumlah dana pihak ketiga (DPK) pun meningkat dari angkaRp 206 triliun hingga mencapai Rp 327 triliun pada interval waktu tersebut.

Pembiayaannya meningkat dari Rp 157 triliun menjadi Rp 278 triliun, sementara rasionya untuk pembiayaan bermasalah (dikenal juga sebagai non-performing financing atau NPF) brutto berada pada tingkat 1,90 persen.

Dalam aspek keuntungan bersih, performa BSI sangat mengesankan. Labanya meningkat lebih dari tiga kali lipat selama empat tahun, yaitu dariRp 2,1 triliun di tahun 2020 hingga mencapai Rp 7 triliun diakhir tahun 2024.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)