Isu terkait konsekuensi dari keputusan Pengunduran Diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dari Kabinet Merah Putih mendominasi berita bisnis pada hari Sabtu, 15 Maret.
Di samping itu, terdapat pula informasi tentang GE Aerospace (GE.N) yang dikabarkan telah memperoleh kontrak dari Angkatan Udara Amerika Serikat (U.S Air Force) guna penyediaan mesin pesawat tempur. Berikut adalah ringkasannya.
Pengaruh Masalah Airlangga-Sri Mulyani Mundur dari Kabinet Merah Putih
Topik tentang pengunduran dirinya dua menteri dari Kabinet Merah Putih yang sudah lama berada dalam pemerintahan era Presiden Joko Widodo, yakni Airlangga Hartarto serta Sri Mulyani, kini sedang ramai dibicarakan oleh publik dan para pemain pasar.
Wiyanto Samirin dari Fakultas Ekonomi di Universitas Paramadina menyebutkan bahwa fenomena tersebut memang telah terjadi dan memiliki dampak negatif meski sebelumnya ada penyangkalan tentang isu ini.
Menurutnya, baik Airlangga maupun Sri Mulyani merupakan menteri berpengalaman yang dipercaya oleh kalangan investor dan pengusaha, menunjukkan prestasi superior dibandingkan para menteri lainnya.
"Apabila hal ini terjadi, dampaknya bisa jadi merugikan. Keduanya merupakan menteri tingkat atas dengan reputasi baik di hadapan para investor dan pengusaha. Prestasi mereka cukup memuaskan dibandingkan menteri lain," ungkap Wija pada saat itu, Sabtu (15/3).
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menganggap bahwa masalah pengunduran diri tersebut malah bisa membawa dampak positif ke pasaran.
"Spekulasi tentang kemungkinan pengunduran diri Sri Mulyani dan Airlangga setelah Idul Fitri bisa jadi merupakan berita baik bagi pasar," ujar Bhima ke , Sabtu (15/3).
Bhima berpendapat bahwa cara Sri Mulyani mendayagunakan pendapatan pajak nasional hingga kini belum cocok dengan apa yang dibutuhkan oleh pemerintah di bawah pimpinan Prabowo.
Terkait dengan Airlangga Hartarto, Bhima mengkritik bahwa terdapat masalah dalam sektor tenaga kerja, seperti jumlah PHK yang tinggi serta berbagai rangkaian stimulan yang belum berhasil meningkatkan daya beli publik. Hal ini mencerminkan koordinasi yang kurang baik antara departemen-departemen perekonomian.
Menurutnya lagi, karena Sri Mulyani sudah berada secara langsung di bawah presiden, kedudukan Airlangga sebagai Menteri Koordinator Bidang Ekonomi sepertinya jalan dengan mandiri.
Dia mengatakan bahwa penggantinya baik itu Sri Mulyani ataupun Airlangga Hartarto harus datang dari kalangan teknokrat atau pejabat birokrasi berpengalaman yang tidak terkait keluarganya dengan Presiden, agar mereka bisa bertindak secara profesional.
Di samping itu, menteri terbaru perlu memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan pengusaha dan pasar, serta siap mengusulkan kebijakan-kebijakan maju seperti pajak karbon, tarif harta benda, dan implementasi Pajak Minimum Global guna membatalkan insentif pajak yang kurang sesuai.
Dia juga menekankan kebutuhan akan disiplin dalam pengelolaan keuangan negara serta kemampuan untuk mengabaikan kebijakan-kebijakan populer yang tak sejalan dengan dana yang tersedia.
Akhirnya, Bhima menyimpulkan bahwa kedua menteri itu telah menjadi tidak penting dalam kabinet Prabowo karena berbagai indikator pasar yang mencerminkan rendahnya kepercayaan publik setelah mereka tetap bertahan di jabatan tersebut selama masa pemerintahan Prabowo.
GE Aerospace Mendapatkan Kontrak Senilai Rp 81,75 Triliun untuk Penyediaan Mesin Pesawat Militer Amerika Serikat
GE Aerospace (GE.N) dilaporkan telah menerima kontrak dari Angkatan Udara Amerika Serikat (U.S Air Force) pada hari Jumat, 14 Mei.
Reuters melansir, kontrak tersebut bernilai hingga USD 5 miliar atau Rp 81,75 triliun (Kurs Rp 16.350) untuk mendukung program penjualan militer asing (foreign military sales) pemerintah AS untuk mesin F110-GE-129, yang digunakan pada pesawat tempur F-15 dan F-16.
Pada model kontrak ID/IQ yang berlaku, GE akan menyediakan beberapa unit mesin F110 selama periode waktu tertentu, walaupun kuantitas spesifiknya masih belum ditetapkan.
Pada bulan Maret sebelumnya, perusahaan besar bidang pesawat terbang itu pun telah menyatakan niat untuk berinvestasi mendekati USD 1 miliar atau setara dengan Rp 16,35 triliun dalam pembuatan pabrik serta jaringan suplai mereka di Amerika Serikat yang direncakan akan dimulai pada tahun 2025.
Ini adalah sebagian dari usaha untuk menguatkan tahap produksi serta mengerjakan penggunaan teknologi dan elemen-elemen baru. Dana yang diinvestasikan tersebut mencatatkan peningkatan mendekati dua kali lebih besar dibanding tahun sebelumnya.
"Investasi di bidang manufaktur serta inovasi kini menjadi semakin vital bagi perkembangan industri kita dan masyarakat sekitar tempat perusahaan ini berada," ungkap CEO Larry Culp seperti dilaporkan Reuters pada hari Sabtu, 15 Maret.
Di samping itu, GE pun bertujuan untuk merekrut 5.000 karyawan dari Amerika Serikat pada tahun ini, yang meliputi penambahan posisi di sektor produksi dan rekayasa.
Kabarnya, perusahaan juga akan meningkatkan kapasitas produksi mesinnya dan memperluas beberapa lokasi utama, terutama yang mendukung pembuatan mesin berbadan sempit CFM LEAP. Tak tanggung-tanggung untuk hal ini, perusahaan akan menghabiskan USD 500 juta dari total investasi.