JP Morgan Beri Sinyal Lampu Kuning, 'Risiko Resesi di AS Bisa Meningkat 50 Persen'

tisubodas
By -
0

WASHINGTON DC - Bruce Kasman dari JP Morgan Chase menyuarakan kekhawatiran tentang kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS). Saat berbicara dalam konferensi pers di Singapura kemarin, dia menjelaskan bahwa probabilitas terjadinya resesi di AS semakin tinggi. Berdasarkan analisis terbaru yang dilakukan oleh perusahaan mereka, terdapat kans sebesar 40% bagi AS untuk masuk ke dalam resesi pada tahun ini.

Bukan hanya itu saja, Kasman juga menegaskan bahwa peningkatan risiko resesi di Amerika Serikat dapat menciderai reputasi negara tersebut sebagai destinasi favorit untuk berinvestasi, terutama setelah adanya keputusan-keputusan oleh Presiden Donald Trump. "Terdapat ketakutan yang semakin bertambah mengenai kondisi ekonomi AS," ujarnya kemarin.

Kasman menjelaskan bahwa meskipun JP Morgan belum mengubah prediksinya, mereka telah meningkatkan probabilitas resesi hingga kisaran 40%, naik dari sekitar 30% seperti yang dipertimbangkan di awal tahun. Menurut proyeksi ekonomi Amerika Serikat oleh J.P. Morgan, pertumbuhan untuk tahun ini diperkirakan hanya mencapai dua persen.

Di pasar modal lokal, nilai saham anjlok dan para pemodal melakukan penjualan agresif dalam beberapa hari terkini, mencapai level tertinggi dalam sebulan belakangan ini. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran investor atas potensi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh langkah-langkah tarif baru dari Presiden AS Donald Trump terhadap barang impor.

sembilan puluh lima persen ekonom yang dirangkum melalui survei Reuters minggu lalu dari berbagai wilayah seperti Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat menyebutkan bahwa ancaman resesi dalam perekonimian mereka semakin membesar karena kebijakan tariff milik Trump.

Para ekonom dari Goldman Sachs dan Morgan Stanley minggu lalu mengurangi proyeksi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat (AS), kini memperkirakan pertumbuhannya menjadi 1,7% dan 1,5% untuk tahun ini berturut-turut.

Kasman menyebut bahwa ancaman resesi bisa memburuk menjadi sekitar 50 persen atau bahkan lebih tinggi apabila sanksi bertopeng perdagangan yang sudah diancam oleh Trump dimulai pada bulan April dan benar-benar efektif.

"Apabila kita meneruskan kebijakan yang semakin menganggu dan kurang bersahabat dengan dunia usaha seperti ini, menurut pendapat saya, risiko terjadinya resesi bakal meningkat," ujar Kasman.

Dia menambahkan bahwa ketidakefektifan dalam gaya kepemimpinan Trump bisa mempengaruhi keyakinan para investor terhadap berbagai instrumen investasi di Amerika Serikat.

"AS sepertinya sudah menegaskan posisinya sebagai tempat di mana orang bisa merasa aman mengenai kekuatan hukum... aman tentang keselarasan aliran informasi, serta yakin bahwa pemerintah tidak akan secara tak terduga campur tangan dalam proses tersebut," ujarnya.

Masalahnya adalah bahwa setelah Trump mengambil sumpah jabatannya, negeri ini diguncang oleh berbagai macam kebijakan yang menuai pro kontra. Pengurangan dana bagi beberapa instansi pemerintahan, pergeseran posisi Amerika Serikat dalam kancah global, serta langkah-langkah semacam membatalken tim penasehat yang bertugas untuk mendukung ketersediaan informasi dapat merugikan hal tersebut menurut pendapat Kasman.

"Segala sesuatu tersebut merupakan bagian dari ketidakpastian yang kini berpindah ke ranah kebijakan Amerika Serikat, dan saya rasa sebagian dari risiko pada proyeksi tahun ini belum sepenuhnya diperhitungkan," ujarnya.

Kemungkinan bahwa situasi tersebut mulai mendapat tekanan dan mengubah dinamika fundamental di pasaran tidaklah sesuatu yang bisa kurasakan secara signifikan.

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)